Skip to main content

The "Perks" of Being a Mom #1

Ide untuk nulis itu selalu dateng diwaktu yang gak tepat. Semisal pas lagi nyuci piring, jemur pakaian, lipetin baju, ya pokoknya di waktu-waktu yang gak bisa langsung bikin ide itu jadi tulisan. Kaya tadi tuh waktu jemur pakaian, rasanya banyaaaak banget unek-unek di kepala dan selama jemur itu semua kata-kata udah terangkai indah siap dijadiin sebuah tulisan. Pas begitu beres jemur, ambyar gatau kemana 😅

Gak jarang ketika ngerjain kerjaan domestik tanpa direcokin anak-anak itu pikiran travelling kemana-mana. Makanya, kalau doing something in repeat kayanya better sambil nyetel lagu atau apapun itu untuk ngedistract pikiran aku. Macam tadi pas jemur tuh, tiba-tiba keinget stories adik tingkat dalam perjalanan ke Amerika karena doi dapet beasiswa. Ada lagi euforia temen-temen yang ikutan CPNS. Aku...bakalan lakuin hal yang sama kaya mereka gak ya? Lalu aku sadar dan memandang tumpukan baju yang harus dijemur. Lalu wajah anak-anak yang lagi tidur muncul dan berasa ditampar, Naaaa ai kamu mikir apa atuh? Kalau dikasih pilihan lagi pun, aku tetep bakalan milih kehidupan yang sekarang sama anak-anak. Dasar aku...

I dont know that being a mom would be so stressful. Blessingnya lebih banyak, indeed, but to overcome the issues is not as easy as it seems. Aku mungkin dulu kuat begadang ngerjain tugas, ikut kegiatan organisasi, but I feel it's overwhelming to face all the things happen in the house. Especially saat ini pas punya anak tiga. Lucu sih ya, dulu pas baru punya Fatih rasanya rempong banget ngurus rumah plus suami plus anak. Sering nangis ngadu ke suami kalau Fatih nepok-nepok TV, jatohin kipas, telat masak karena Fatihnya nemplok mulu. Pas sekarang nginget-nginget kejadian itu, hey, itu tuh ga ada apa-apanya 🙃 Masih bisa masak sehari 3 kali, masih sempet ikutan IIP, masih bisa nyambi jualan, the world was still in your hand. Tapi, pada saat ngalaminnya ya emang gak gampang karena belum ada pengalaman juga, semua itu adalah hal yang baru buat aku. Sekarang setelah lewatin fase itu, ketawa-ketawa juga. Ada yang lebih menantang ternyata.

Sering dari jaman sekolah suka ada motivator yang nyuruh kita bikin poin-poin "Dalam 5-10 tahun ke depan, aku akan..." ? Terlepas dari tercapainya list buatanku dulu, I never imagine that I will jemurin baju-baju aku, anak-anak, dan suami disaat mereka udah ada di alam mimpi. I mean, pernah sih nulis pas umur 25 an itu udah nikah, punya anak, punya rumah, tapi gak pernah kebayangin aku sibuk nyuci piring, ngepel, nyuci baju, jemur, dan hal-hal lain yang sebenernya udah sepaket kalau emang mau nikah dan punya anak. Ada perasaan kangen untuk ngajar, ikutan seleksi beasiswa, ikutan CPNS (Kemenlu!), sibuk aktif sana sini. But when I see my three angels, senyebelin apapun mereka, rasanya aku gak bisa nuker ini semua. I tried to find myself, bahkan doing something yang gak aku banget like dying my hair. At first ya berasa fresh gitu kan, aku dapet suasana baru. But in the end, "How ugly I am" selalu keluar pas gak sengaja liat diri di kaca. Messy hair, pale lips, big pores, sleting baju gak ketutup abis nyusuin, sooo messed up meskipun warna rambut udah beda. Why can't I be a good mom? A beautiful mom with fantastic cooking skill and a neat house. I can't have them all. Kalau kata artikel di FB mah, aku itu ibu rata-rata. Ya ga ada yang bagus gitu, semua skillnya rata-rata. Ketika aku ada di titik itu, aku selalu berpaling liat ke belakang. Rasanya dulu aku PD lakuin semua hal. I may not be that good, but I know I am capable of doing things. Sekarang? Even to speak up what I am thinking feels so wrong. In certain time, I feel that I lose myself. 

The most frustating issue adalah soal makan anak-anak. Kalau ada yang sedih Hanna kurus banget sekarang, tau gak sih kalau aku tuh lebih sedih? Kalau ada yang bingung gimana biar Hanna makan, aku tuh lebih bingung. Trialnya itu bukan cuma sejam dua jam, sehari dua hari doang. Tiap hari loh bingungnya sedihnya. Cape aja rasanya kalau denger "Gimana atuh ini..." karena ya aku mah udah dari kapaaaaan mikirin ini. Malah berasa burdening ke akunya. Tiap liat anak nolak makan tuh sakit hati, kesel, bingung, nyampur jadi satu. Ditambah kalau ada yang komen A B C makin-makin aja jlebnya. Organizing event gede aja ga sebegini kenceng pressurenya. Lebih susah ngurus anak. Udah ngatur waktu biar sempet masak, beberes, ini itu, eh udah jadi gak dimakan ama anak. Beli makanan juga sama cuma sesuap dua suap. Belum sebentar lagi Hanif MPASI, kuatkan aku 🤲🏼

Momen jengah di rumah kadang bikin pingin kabur sebentar. Anak nambah rasanya cuma hidup aku yang berubah dan semua sikap aku bakalan berimbas ke yang lainnya. Kaya semuanya ada di aku, gara-gara aku. But then nothing I can do selain nangis diliatin si sulung yang bingung dan komen, "Kok udah gede nangis sih?" 😅. I have nothing but Fatih, Hanna, Hanif yang keep me sane. So sorry for not being a good mom. I'm trying...

Comments

Popular posts from this blog

Bermimpi jadi anggota DPD itu.....

Ditengah krisis kepercayaan kepada pemerintah yang sedang terjadi saat ini, terdapat banyak harapan dari masyarakat yang merindukan sosok pemimpin sebenarnya. Terlalu jauh sepertinya jika masyarakat harus merengek kepada anggota DPR, toh sebenarnya ada wakil terdekat yang diwadahi dalam sebuah lembaga bernama Dewan Perwakilan Daerah. Banyak orang yang haus akan kekuasaan, namun seandainya saya menjadi anggota DPD RI, ada beberapa hal yang akan saya lakukan, yaitu : 1. Selalu Sadar Diri Cukup banyak masyarakat yang kecewa dengan pemerintahan karena para wakil ternyata hanya mengumbar janji saat pemilihan dan kenyataannya mengesampingkan kebutuhan masyarakat. Padahal saya dapat menjadi anggota DPD pun karena rakyat yang memilih. Disini saya akan selalu sadar diri untuk apa dan siapa saya menjadi anggota DPD RI. Hal ini akan selalu mengingatkan saya akan tugas utama yaitu untuk mengusahakan apa yang diaspirasikan rakyat dan dengan modal sadar diri akan membuat program-program kedep...

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.