Kenapa bisa?
Yang namanya manusia, rasanya gak lengkap kalau tahu akibat tapi gak tahu sebabnya. Lihat asap, pasti dicari apinya. Udah gak keitung berapa macam respon dan ekspresi yang saya dan suami dapet ketika mereka tahu kalau saya hamil lagi. Yang menyamakan cuma satu, kekhawatiran. Khawatir karena jarak yang terlalu dekat, dalam artian nanti pasti repot ngurusnya.
Kekhawatiran mereka itu lalu berujung pada satu pertanyaan yang sama: "Emang gak KB?" Awal-awal setiap ditanya begitu, pasti ada template jawaban yang sudah saya persiapkan. Sayangnya, jawaban saya tidak pernah memuaskan mereka yang bertanya. Akan selalu ada pertanyaan selanjutnya dan in the end it feels that they point their fingers to us, not to blame, but...hey you'd better to blablablabla.
Lalu saya mulai jenuh. Jenuh dengan semua pertanyaan kok bisa dan kenapa gak KB yang seakan-akan ini adalah sebuah kesalahan dan bentuk keegoisan kami (saya khususnya). Saya bosan menjelaskan kenapa ini semua bisa terjadi. Sekarang, saya lebih memilih diam dan senyumin aja.
Mereka tidak paham, karena mereka tidak tahu urusan dapur saya. Yang jelas mengetahui cuma saya dan suami. Kalau mereka bingung, ya apalagi kami yang menjalaninya. Istilahnya, kami loh yang melakukan A, B, C sampai memperhitungkan gimana biar gak A, B, C. But they dont listen and come with such judgement yang jujur bikin aku yang sekarang kepalang udah hamil ngerasa this is a mistake. Kadang saya suka pingin nimpalin, lah emang saya yang mau? emang saya sengaja? emang kita mikir yang enak-enaknya doang? yaelah yang ngerasain gimana hamil, gimana ngelahirin, gimana ngurus anak itu kan gua yak, pasti saya juga mikir udah siap belum nih. Kalau udah siap gimana, kalau belum siap gimana, we dont take things for granted.
Ya namanya manusia, ya manusia. Saat saya sibuk menerima obrolan tentang KB lah, apalah, mungkin yang ada di pikiran orang-orang adalah whats wrong with you? yampun kasian loh itu anaknya masih kecil-kecil, yang sulung aja sekarang suka cari perhatian, apalagi nanti nambah adiknya, deesbe deesbe. Tiba-tiba saya jadi bercermin pada diri sendiri. Jangan-jangan, saya juga kaya gini ke Allah. Mereka yang berspekulasi tentang kehamilan saya gak lebih tau dari apa yang saya dan keluarga alami. Pun saya yang banyak berspekulasi pada Allah, malu rasanya. Pertanyaan-pertanyaan semacam, "Ya Allah kenapa saya harus hamil lagi sekarang? Ya Allah emang saya bisa? Ya Allah ini saya ngurus dua plus hamil aja udah sering nangis ngerasa cape dan pusing, gimana nanti pas udah lahir? Dan segala macam prasangka lainnya. Astaghfirullah...
Saya aja sering ngelus dada untuk membuat mereka paham kalau ini beneran di luar rencana dan kuasa kami. Apalah saya yang masih aja suka mempertanyakan pada Allah padahal Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hambanya. Ketika dokter bilang menyusui itu salah satu KB alami terbaik yang efektivitasnya sampai 98%, ditambah menstruasi yang belum teratur, ditambah kontrasepsi lainnya, dinalar manusia sangat kecil sekali kemungkinan untuk hamilnya. Nyatanya, kuasa Allah itu di luar nalar manusia. Ternyata saya tetep hamil juga. Bahkan saya serasa terus menerus ditunjukkan bahwa kuasa Allah adalah segalanya, dimana teman yang sudah pasang IUD saja 2 bulan setelah melahirkan secara SC saat ini hamil lagi. Lalu tanggapan orang-orang adalah pemasangannya yang salah, dokternya yang gak handal. Ya, mungkin. Tapi dari sepersekian banyak kemungkinan, ada juga kejadiannya. Apa lagi kalau bukan atas kehendak Allah?
Ini adalah qada dari Allah. Bahwa segimanapun kami menghindar, kami berusaha mengelak, tetap terjadi juga. Yang kami rasa adalah, ini bener-bener hadiah dari Allah. Ketika hamil Hanna saya sebegitu rapuhnya, eh yang ini malah kuat banget. Allah bener-bener ngejaga yang ada di perut ini. Qadarullah....
Semua rangkaian perjalanan ini seperti sudah dipersiapkan. Lahiran Hanna melalui proses VBAC, Hannanya sholehah banget, jadi emang udah dikasih fasilitas aja gitu.
Godaan pasti ada, awalnya gak bisa terima, lalu disadarkan dengan teman yang kehilangan anaknya, teman yang sedang menanti buah hatinya sampai akhirnya saya bisa legowo. Tiba-tiba Hanna demam, dehidrasi karena ASI seret, saya sedih lagi. Bener-bener naik turun, rollercoaster.
Mungkin memang rezeki Hanna disusuin sayanya cuma segitu, kata suami. Harus fokus cari solusi dari kekhawatiran dan masalah yang muncul dari kondisi saat ini.
Jadi kalau ditanya salah siapa? Ga ada yang salah.
Comments
Post a Comment