Skip to main content

30DaysMIB - Hari#1

Bismillah.

Ihdina shiratal mustaqim. Tunjukilah kami jalan yang lurus.

Ayat ini jadi salah satu ayat yang pasti gak kelewat dibaca setiap harinya. Tahu artinya, tapi kayanya belum begitu "menjiwai". Sebatas dibaca, tahu artinya, tapi kurang memaknai.

Mungkin, ada saat dimana saya beneran tulus membaca ayat ini, sampai Allah akhirnya mengabulkan dan selalu memberi saya petunjuk atas pilihan-pilihan hidup yang ada di hadapan saya. Begitu baiknya Allah memberikan petunjuk, tapi sayanya masih aja suka menampik petunjuk tersebut.

Pernah gak sih kaya kita tahu jawabannya, tapi kita tetep nanya? Atau kita tahu itu tuh salah, tapi tetep aja nyari pembenaran? Kita tahu yang betul itu harusnya gimana, tapi kita masih denial dan dengan berani malah melawan kebenaran tersebut?

Kalau saya, pernah. Bahkan akhir-akhir ini sering. Pas disuguhi ayat ini? Rasanya lagi-lagi saya dikasih petunjuk sama Allah. Ditegur, karena saya ada di track yang salah. Diingatkan kembali, dituntun, tinggal sayanya aja yang memilih, mau menerima atau lagi-lagi menampik dan mencari pembenaran.

Ya Allah, saat ini saya sedang terseok-seok di jalanMu. Ingin rasanya berbelok ke jalan lain, menolak apa yang telah ditetapkan olehMu, apa yang ada di luar pengetahuanku. Ya Allah, terima kasih untuk selalu memberikan petunjuk dimanapun, kapanpun. Lembutkan hati ini agar selalu ada di jalanMu.

#30DaysMIB

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.