Skip to main content

Untuk Alfatih

Fatih...
Mama tahu Fatih sayang sama Hanna, tapi cara Fatih menunjukkannya seringkali disalahartikan oleh kami orang dewasa. Harusnya kami mengerti dan mengarahkan, karena Fatih sedang belajar mengekspresikan rasa sayang.

Fatih...
Kadang kami jahat, hanya fokus pada Hanna. Takut jika Hanna kenapa-kenapa ketika Fatih mencoba mengelus atau mencium adiknya. Tidak jarang kami langsung melarang dan sedikit naik intonasinya demi menjaga Hanna, hingga kami lupa bahwa Fatih pun harus dijaga perasaannya.

Fatih...
Fatih terlihat sudah "dewasa" ketika mau tidur sendiri di rumah Eninnya. Namun kami lupa jika Fatih masihlah anak berusia 4 tahun, yang ketika ada mamanya masih merengek minta dipeluk hingga tertidur di kasur yang sama.

Seringkali tangannya yang kini tak mungil lagi menarik-narik minta dipeluk sambil menahan kantuk. Sementara mama masih sibuk menyusui adik hingga akhirnya Fatih tertidur membelakangi kami, menunggu terlalu lama untuk sekedar dipeluk.

"Mah, mewarnai, yuk?"
Beberapa kali, bukan, seringkali Fatih ucapkan pada mama semenjak Fatih dibelikan buku dan crayon itu. Tapi beberapa kali pula tertolak keinginannya karena mama sibuk menyusui atau dikejar target mencuci dan beres-beres.

"Mah, main lego, yuk?"
Pilihan lainnya yang Fatih tawarkan untuk membeli waktu bersama mamanya. Lagi-lagi hanya rayuan yang Fatih dapatkan. Fatih main sendiri dan mama hanya memuji setelah melirik pada hasil karyanya.

Fatih...
Mama tahu selalu ada kekecewaan di mata kaka pada setiap penolakan dan perhatian yang hilang. Kalau Fatih merasa sedih dan marah, mama lebih lebih lebih merasa sedih dan marah lagi pada diri sendiri.

Sayang mama ke Fatih dan Hanna 100:100. Mama hanya butuh belajar untuk menunjukkannya agar Fatih dan Hanna sama-sama merasa disayang, sama-sama diperhatikan.  

Allah tahu kalau kita mampu, maka dari itu Allah amanahkan Hanna untuk kita jaga dan sayangi, bukan disaingi.

Maafkan mama yang begitu lambat memahami keadaan, belum pandai mengelola emosi. I'm trying to be a good mom for you two. 

Semoga Allah mudahkan ya ❤
.
.
.
Ditulis saat mama patah hati siang ini, saat sedang menyusui Hanna dan Fatih menghampiri karena ingin tidur siang juga. Alih-alih tidur, Fatih malah loncat-loncat di kasur dan setelah ditegurpun malah sesekali mencolek dan mencium Hanna. Jadilah Hannanya bangun lagi bangun lagi.  Fatih dikasih pilihan, mau tidur atau gak. Katanya mau tidur sama mama, tungguin mama dulu. Etapi Hannanya diganggu lagi. Jadilah dikasih pilihan, tiduran dan jangan ganggu dede atau main aja di luar kamar. Fatih diam sebentar, lalu turun dari kasur dan keluar kamar.

Hening...

Sampai akhirnya menyusui selesai lalu Syfa masuk ke kamar, "Tan, Fatih itu tidur di bawah sprei." Ya Allah....




Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.