Skip to main content

Hari Kebalikan

Sombong.

Saya dulu sombong. Dengan segala nikmat dan kelebihan yang Allah kasih, saya masih berani sombong. Dan saya malu jika mengingat-ingat masa lalu. Ya Allah, betapa sombongnya saya saat itu.

Saya merasa begitu besar, karena apa yang Allah titipkan membuat saya merasa lebih besar dari orang lain, minimal saya sejajar dengan orang-orang "terkemuka." Merasa bahagia, karena orang lain bangga pada saya, membuat saya merasa saya ini berharga. Saya tidak diremehkan.
Allah maha membolak-balikkan hati.
Dan hari kebalikan itupun terjadi.
Hari dimana saya tidak berani sombong.
Hari dimana saya merasa kecil.
Hari dimana saya merasa tidak ada hal yang dapat dibanggakan dari saya.

Dimana saya merasa begitu kecil dan dikelilingi oleh orang-orang yang besar.
Dimana saya merasa saya ada jauh di belakang orang-orang yang sebelumnya ada bersama-sama berdampingan dengan saya.

Tidak ada yang dapat saya banggakan, dan tidak ada yang membanggakan saya.
Saya hanya berputar-putar pada pencapaian di masa lalu. Tanpa mampu bergerak maju untuk membuat catatan baru.

Disaat inilah, saya benar-benar merasa malu atas kesombongan saya di masa lalu.
Padahal apa yang saya capai hanya sebagian kecil dari apa yang Allah beri.
Padahal apa yang saya capai yang menurut saya besar dan nikmat, ternyata membuat saya jauh dari Allah.

Dan sekarang, Allah memberikan saya pembelajaran. Pembelajaran agar saya merasa begitu kecil tanpa ada sesuatu untuk dibanggakan, dan tanpa seseorang yang bangga pada saya.

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.