Pulang. Untuk anak yang dari lahir sampai lulus kuliah menetap di sebuah rumah dengan keluarga, bisa jadi inilah yang disebut pulang. Pagi pergi ke kampus, malamnya pulang ke rumah. Pulang = kembali ke tempat where we belong. Keluarga. Rumah.
Untuk teman-teman yang merantau, makna pulang bertambah, atau setidaknya destinasinya yang bertambah. Pulang ke kostan = kembali ke rumah sementara saya tinggal. Pulang kampung = kembali ke rumah dimana keluarga berkumpul.
Kadang, ketika kita menemukan sebuah tempat dan orang-orang baru, kita ternyata mampu memperluas maupun mempersempit makna pulang itu sendiri. Setidaknya, prioritas where I belong dan kemana saya akan pulang bisa berubah-ubah. Anak kuliahan bisa jadi lebih merasa "rumah saya" ketika ada di kostannya dan kostan jadi tempat pulang yang lebih utama.
Pun setelah memasuki usia bekerja dan menikah, suguhan "pulang" ternyata bisa meluas maupun menyempit apalagi jika kita telah memutuskan untuk hidup berpisah dari "rumah utama" atau keluarga kita. Apakah rumah sendiri saat ini jadi tempat utama untuk pulang, apakah rumah orang tua, atau rumah mertua? Bisa jadi semuanya adalah tujuan pulang, hanya definisi "rumah" tempat kita pulanglah yang akan mengubah posisi prioritas kemana kita akan pulang, pulang yang kita nanti-nantikan. Jika sebelumnya rumah orang tua kita adalah tujuan utama kita untuk pulang, bisa saja perubahan sense of belonging terhadap rumah itu berubah setelah kita menikah, dimana rumah sendiri yang berisi keluarga kecil ini jadi tujuan utama untuk pulang. Lalu, bisa jadi rumah orang tua kita tergeser lagi posisi prioritasnya oleh rumah ayah dan ibu mertua jika ternyata kita lebih merasa I finally am home saat kita berada di sana. Semuanya bisa berubah, keadaan dan orang-orang di tempat kita pulanglah yang mampu memunculkan rasa "Saya ingin pulang."
Pulang, ketika kita punya tujuan dan alasan untuk kembali.
Lalu, bagaimana jika kita tidak punya tujuan itu?
Ketika terkadang, kita merasa itulah tempat kita kembali, namun ternyata keadaan di dalam tempat kita berpulang menyadarkan kita bahwa you don't belong here, anymore.
Yang ketika kita merasa di rumah, tapi ternyata tidak ada sikat gigi khusus untuk kita di tempat biasanya, atau memang tidak disediakan sama sekali. Just because you don't belong here, kita hanya singgah di tempat itu.
Yang ketika kita merasa di rumah, tapi ternyata kepulangan kita tidak dinantikan. Just because you don't belong here, dan ternyata kita hanya singgah di tempat itu.
Yang ketika kita merasa di rumah, tapi ternyata kita merasa seperti outsider, yang sewaktu-waktu bisa didepak keluar dari rumah tersebut. Just because you don't belong here, dan ternyata kita hanya singgah di tempat itu.
Atau, kita pulang just because we have to, but we don't feel that we are going home.
Ternyata, adanya tempat untuk pulang, tidak menjamin kita merasa benar-benar pulang.
Mungkin yang hidup di kostan akan ada waktunya merasa ingin pulang ke rumah orang tua.
Ketika pulang ke rumah orang tua atau mertua, ada perasaan ingin pulang ke kostan lagi untuk hidup mandiri.
Banyak perasaan-perasaan nyaman dan tidak nyaman yang akan kita rasakan di berbagai tempat kita kembali.
Karena, semua tujuan pulang tersebut seyogianya memang hanya tempat kita singgah di dunia ini.
Dan sebenar-benarnya tempat kita pulang, kembali, hanyalah kepada Allah semata.
Ketika kita merasa kita tidak memiliki tujuan untuk pulang, bergantunglah hanya pada Allah, biar Allah yang mengatur perasaan-perasaan hambaNya. Biar Allah yang memunculkan rasa nyaman, aman, dan rindu pada setiap rumah yang kita singgahi di dunia ini. Bukankah sering kita dengar orang-orang berkata "It feels like my second (third, fourth, etc.) home."
Terlebih, jika di dunia saja kita merasa bingung, sedih, galau saat kita tidak memiliki tempat yang nyaman dan dirindukan untuk pulang, bagaimana nanti? Dimana Allah adalah sebenar-benanya tempat kita pulang. Apa kita ingin tempat yang nyamankah, dimana kita merasa dirumahkah, merasa dirindukankah? Salah satu yang membuat kita rindu untuk pulang tentu karena dekatnya hubungan kita dengan orang-orang di tempat kita kembali. Sedekat apakah hubungan kita dengan Allah hingga kita dirindukan untuk ada di dekatNya dan dinyamankan rumahNya?
Padahal, sebenar-benarnya tempat kita pulang, adalah Allah semata.
Comments
Post a Comment