Hai, it’s
been a long time, my bloggy J
Sedih, bingung, putus asa..
Itu yang sekarang lagi saya rasain (halah)
Kenapa? Kenapa cobaaaa...
“Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. Thabrani dan Daruquthni)
Saya, (masih) bukan sebaik-baik manusia. Apalagi akhir-akhir
ini, saya bukannya bermanfaat bagi orang lain, tapi justru saya yang
menyusahkan dan merugikan orang lain.
Ambillah contoh ketika saya menjadi penentu keberangkatan satu
tim pada kompetisi. Setidaknya, ada dua orang yang menjadi korban tidak jadinya
mereka berangkat akibat keputusan saya.
Ada lagi, saya memberikan nomor teman yang jual pulsa ke
(yang pura-pura jadi) temen saya dan akhirnya berujung pada kerugian teman yang
jual pulsa akibat ditipu sebesar 450.000. (Meskipun mungkin bukan cuma saya
yang ngasih nomor mereka, tapi tetep aja ngerasa salah. Bodo -__- )
Selain itu, ada juga kesedihan ketika saya membuka si kulit
persegi panjang (yang harusnya berisi uang), tersisa dua lembar 2000an dan uang
receh 500 rupiah empat koin dan 100 rupiah lima koin. Pas sekali untuk memberi
makan si kuda besi hitam ini (read: motor). Akhirnya, si kulit persegi panjang
itupun: k.o.s.o.n.g.
Dipikir-pikir, saya kok lebih peduli sama si kuda besi
daripada perut sendiri? Uang lebih banyak untuk membeli makan si kuda daripada untuk
diri sendiri. ckckck..
Dompet yang meraung-raung minta diisi, kebutuhan yang menghantui.
Karena kosongnya si kulit persegi panjang ini, saya putus
asa. Putus asa kemana mencari rezeki yang harus saya jemput? Bagaimana saya memenuhi
kebutuhan untuk meraih mimpi itu?
Masya Allah, akhirnya ada yang mau direpotkan lagi oleh saya. Sebenarnya, saya malu. Malu harus “meminta”. “Meminta” kepada dia yang sebenarnya belum berkewajiban untuk hidup saya. Pun Ibunda saya dengan ajaibnya selalu ada lembaran-lembaran berharga di dompetnya untuk membantu saya melanjutkan mimpi itu, sebuah kebanggaan katanya. Darimana? Tapi kok makan kita seadanya? bahkan kadang tidak ada.
Alhamdulillah saya selalu dibantu, selalu didukung lahir batin #tsaah
Jika meraih mimpi dan harapan itu sebegini berlikunya, berarti ini adalah mimpi yang besar.
Ketika saya sudah berjalan tertatih sepanjang perjalanan menuju pintu itu, terima kasih kepada mereka yang telah memapah dan turut merasakan sakitnya berjalan di hamparan aspal hingga panasnya terasa menyentuh telapak kaki.
Jadi, sudah berapa banyak yang kamu rugikan, Dena?
Saya masih belum mampu memberi manfaat apa-apa. Belum bisa membalas apa-apa. Allah lah yang pasti akan mengkonversi kebaikan kalian menjadi pahala yang berlimpah karena keramahan dan bantuan kalian.
Saya masih belum mampu memberi manfaat apa-apa. Belum bisa membalas apa-apa. Allah lah yang pasti akan mengkonversi kebaikan kalian menjadi pahala yang berlimpah karena keramahan dan bantuan kalian.
Terima kasih :)
Kalianlah sebaik-baik manusia.
Comments
Post a Comment