Skip to main content

Alhamdulillah, Alhamdulillah lagi, Alhamdulillah terus.

Seperti halnya roda yang berputar, kehidupan kita juga pasti ada pasang surutnya. Karena life is never flat.
Jantung yang berdetak pun menggambarkan garis yang fluktuatif ke atas dan ke bawah. Apabila kita menginginkan hidup yang tidak ada pasang surutnya, sama saja dengan jantung yang berhenti berdetak, garis lurus, seakan hidup hanya begitu-begitu saja. Monoton.

Apabila kita hanya ingin berada di atas saja tanpa merasakan berada di bawah, bagaimana kita mampu mensyukuri nikmat yang ada ketika kita berada di atas?
Kalaupun kita sedang berada di bawah, bukankah kita harus pandai bersabar dan berusaha untuk mencapai puncaknya?

Berada di atas acap kali membuat kita lupa diri. Menikmati tanpa adanya rasa syukur. Sedangkan saat kita di bawah, seringkali kita hanya meminta pun lupa bersyukur. Bersyukur akan nikmat yang sebenarnya masih dapat dirasakan oleh kita semua. Nikmat usia, nikmat sehat, nikmat untuk selalu mengingatNya.
Saat berada di bagian tertinggi di hidup kita pun, sudah seharusnya bagi kita untuk bersyukur. Bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita sehingga kita dapat berada setinggi ini.

Orang yang berada di atas bisa saja masih merasa belum puas dan terus ingin meraih yang lebih tinggi lagi. Tapi tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang terlena sehingga berhenti berusaha dan menenggelamkan diri dalam kenikmatan sesaat.
Mereka pun hendaknya tidak lupa dengan ada yang di bawah mereka, karena itu adalah salah satu cara untuk bersyukur, Alhamdulillah, saya bisa lebih baik dari mereka.

Orang yang berada di bawah sudah tentu harus berusaha untuk menjadi di atas. Ada yang berusaha, ada pula yang hanya bergumam iri dengan orang yang berada di atasnya.
Seharusnya, orang-orang di atas menjadi pecutan bagi mereka agar mau untuk berusaha lagi dan lagi dengan diiringi do'a dan syukur disetiap pencapaiannya. Agar terhindar dari gila akan posisi dan ambisi untuk meraih sesuatu. Alhamdulillah, meskipun belum mampu mencapai posisi beliau, tapi saya sudah lebih baik dari sebelumnya.

Yang terpenting adalah, belajar menerima keadaan karena hidup akan selalu membawa kita berada di puncak tertinggi maupun di jurang terdalam #tsaah
Hal yang tidak boleh kita lupakan adalah selalu bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberi olehNya. Sedalam apapun jurang yang sedang kau lewati, akan ada hikmah di baliknya. Maka bersyukurlah.

Alhamdulillah, Alhamdulillah lagi, Alhamdulillah terus :)


Comments

Popular posts from this blog

Bermimpi jadi anggota DPD itu.....

Ditengah krisis kepercayaan kepada pemerintah yang sedang terjadi saat ini, terdapat banyak harapan dari masyarakat yang merindukan sosok pemimpin sebenarnya. Terlalu jauh sepertinya jika masyarakat harus merengek kepada anggota DPR, toh sebenarnya ada wakil terdekat yang diwadahi dalam sebuah lembaga bernama Dewan Perwakilan Daerah. Banyak orang yang haus akan kekuasaan, namun seandainya saya menjadi anggota DPD RI, ada beberapa hal yang akan saya lakukan, yaitu : 1. Selalu Sadar Diri Cukup banyak masyarakat yang kecewa dengan pemerintahan karena para wakil ternyata hanya mengumbar janji saat pemilihan dan kenyataannya mengesampingkan kebutuhan masyarakat. Padahal saya dapat menjadi anggota DPD pun karena rakyat yang memilih. Disini saya akan selalu sadar diri untuk apa dan siapa saya menjadi anggota DPD RI. Hal ini akan selalu mengingatkan saya akan tugas utama yaitu untuk mengusahakan apa yang diaspirasikan rakyat dan dengan modal sadar diri akan membuat program-program kedep...

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.