Skip to main content

Redefining...

Hidup itu harus punya tujuan. Terbilang mungkin sejak sosok Ayah hilang, saya mulai mendefinisikan "Saya" dan "Tujuan". Waktu SMP, saya mendefinisikan diri sebagai "anak yang gak nyusahin orang tua" dan hal itu membentuk sebuah tujuan kalau saya gak boleh nyusahin mama, khususnya untuk biaya sekolah. Rezekinya dari Allah, saya bisa dapet beasiswa, jadi untuk urusan biaya gak nyusahin mama lagi kecuali kalau soal makan masih selalu dibekelin dan dimasakin. Disini, definisi sebuah keluarga adalah memang keluarga kandung yang selalu saya prioritaskan.

Karena definisi saya yang gak mau nyusahin orang tua, saya milih masuk SMK meskipun mama ngarepnya sih ada satu anaknya yang ke SMA (biayanya itu loooh). Saya cukup tahu diri kalau saya gak mungkin kuliah. Jadi mending SMK aja biar bisa langsung kerja dan jreeeeeeng, ditolak .____.
Alhamdulillah Allah membantu saya karena tiba-tiba ada demo dan batas tinggi untuk seleksi masuk diturunin jadi 153cm aja :')
Masuk ke SMK, saya mulai mendefinisikan diri saya lagi. "Saya gak nyusahin orang tua dan saya berprestasi." Loh ko ditambah embel-embel berprestasi? :o
Soalnya, waktu ada demo ekskul, saya ngiri ama prestasi-prestasi yang disebutin akang tetehnya :'D
Tujuan pun muncul dimana supaya gak nyusahin mama sama bisa berprestasi, jadi harus bisa ranking 1 terus dan ikutan salah satu ekskul yang bawa saya lomba-lomba. 
Alhamdulillah, dari ranking, prestasi, dan bahkan kerja itu udah ada rezekinya :)
Di jenjang ini, definisi keluarga itu bertambah, FORPEC :D

Sekarang, saya kuliah. Awalnya, saya mendefinisikan diri sebagai "anak gak mampu, dibiayain, harus tahu diri"
Kerja udah enak waktu di ITB, tapi tergoda sama kuliah, apalagi ini jurusannya bahasa Inggris XD
Setelah diambil, saya akhirnya punya tujuan dimana IP harus naik tiap semester, ikutan organisasi, ikutan lomba-lomba, kalau bisa keluar negeri. Setidaknya, saya yang gak akan bisa kuliah kalau gak dibiayain ini tahu diri, udah mah dibiayain, cik atuh tong ngerakeun. Yaa semacam itulah. Pokoknya awal-awal itu bener-bener yang namanya semangat dan selalu optimis selalu ada.
Definisi dari keluarga itu bertambah, ESA :)

Mulai masuk semester 4, saya masih mendefinisikan diri sebagai "anak gak mampu, dibiayain, harus tahu diri"
Tapi tujuan saya disini jadi terdefinisikan ulang oleh situasi dan kondisi saat itu. Tujuan saya itu yang penting IP gak turun, organisasi dikurangi, lomba dikurangi, dan cari kerja .____.
Gak bisa selalu namprak nungguin beasiswa cair dan ngutang sana sini kaya mahasiswa kebanyakan meskipun sekarang saya juga masih ngutang ke beberapa temen. Haha.
Karena situasi dan tekanan pada saat itu, to be honest, saya tiba-tiba redefine diri saya sendiri sebagai "anak gak mampu, dibiayain, harus tahu diri, gak suka kalau diomongin yang jelek ama orang"
Jadi sering negative thinking gitu deh..dan kebawa-bawa sampai sekarang saya nulis ini.
Akibatnya, saya juga sedikit mengubah definisi "keluarga".

Mau masuk semester 6, eh udah dilamar ama sang pangeran, hahaha
Udah mah dilamar, terus dapet berita kalau jatah beasiswa cuma 8 semester .____.
Kayanya udah disuruh buru-buru lulus .____.
Definisi saya disini "ditungguin". That's simple.
Ditungguin buat lulus, ditungguin buat kerja, ditungguin buat ngumpulin modal nikah.
Tujuan saya pun akhirnya berubah lagi jadi fokus kuliah, fokus kerja sampingan, fokus ngurus diri dan belajar buat jadi "wanita"
Karena definisi keluarga itu nantinya akan berubah lagi :)

Comments

Popular posts from this blog

Bermimpi jadi anggota DPD itu.....

Ditengah krisis kepercayaan kepada pemerintah yang sedang terjadi saat ini, terdapat banyak harapan dari masyarakat yang merindukan sosok pemimpin sebenarnya. Terlalu jauh sepertinya jika masyarakat harus merengek kepada anggota DPR, toh sebenarnya ada wakil terdekat yang diwadahi dalam sebuah lembaga bernama Dewan Perwakilan Daerah. Banyak orang yang haus akan kekuasaan, namun seandainya saya menjadi anggota DPD RI, ada beberapa hal yang akan saya lakukan, yaitu : 1. Selalu Sadar Diri Cukup banyak masyarakat yang kecewa dengan pemerintahan karena para wakil ternyata hanya mengumbar janji saat pemilihan dan kenyataannya mengesampingkan kebutuhan masyarakat. Padahal saya dapat menjadi anggota DPD pun karena rakyat yang memilih. Disini saya akan selalu sadar diri untuk apa dan siapa saya menjadi anggota DPD RI. Hal ini akan selalu mengingatkan saya akan tugas utama yaitu untuk mengusahakan apa yang diaspirasikan rakyat dan dengan modal sadar diri akan membuat program-program kedep...

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.