Skip to main content

Aku...kamu..

Aku disini, kamu disana.
Sama seperti saat itu, kan? saat pertama saling mengenal..
Aku disini, kamu disana.
Berapa hari yang kita lewati dengan jarak yang memisahkan? mungkin sudah ratusan..
Aku disini, kamu disana.
Kita memiliki hidup masing-masing, kegiatan masing-masing, dan hanya jaringan telepon yang menghubungkan kita.
Aku disini, kamu disini.
Berapa detik yang kita habiskan bersama? ah, sepertinya satu kedipan mata pun kurang.
Aku disini, kamu disini.
Kenapa waktu berjalan begitu cepat? 
Aku disini, kamu disana.
Dan lagi, jarak harus memisahkan kita..lagi..
Aku disini, kamu disana.
Bukankah dari awal kita sudah berkomitmen untuk hal semacam ini? Ah nikmati saja..

Kamu bilang tempat mengajarku terlalu jauh?
Rumah dan tempat kerjamu lebih sulit ditempuh bulak-balik dalam 1 hari..
Kamu bilang kamu khawatir aku pulang malam sendiri?
Kamu bahkan tinggal jauh dari keluarga..
Aku, disini..
Menjalani hidup dan menapaki lika-liku menjadi seorang guru..
Kamu, disana..
Menjalani hidup dan merancang masa depanmu kelak..
Kita, nanti..
Melebur semua jarak yang ada pada waktunya..nanti..

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.