Skip to main content

Silent Moment

Scroll-scroll IG udah biasa lihat si A berhasil ini, si B lanjut kuliah di anu, si C ngejar PhD, dan lain-lain. Lalu hati tergerak menulis ini setelah ada silent moment saat lihat postingan senior yang lolos CPNS untuk bekerja di kedubes luar negeri. Cita-cita? Mungkin. Soalnya kalau ditanya mau jadi guru ya emang pingin jadi guru. Kerja di kedutaan luar negeri pernah jadi impian singkat saat hendak memilih jurusan Hubungan Internasional dulu, tapi ya kan gak jadi karena gak direstui 😅 Di hati kecil ada perasaan, "Aku juga pingin kaya gitu dan aku tahu aku bisa." Gak lama setelah itu hati besar menyadarkan, "Sudah, sudah. Jadi nyesel gitu maksudnya gak ngejar karir? Yakin? Nyesel punya anak tiga yang nempel banget sama ibunya?" Adudududu enggaaaaaak~ Mereka justru jadi hal yang amat sangat disyukuri. Kalaupun saat ini disuruh memilih, aku masih milih untuk punya mereka.

A moment of silence ini emang mungkin perasaan yang manusiawi kali y? Ada sekelibat proyeksi ke masa lalu, apa-apa yang bisa dicapai dengan diri yang dulu, tapi ya gak nolak dengan kondisi saat ini. Takut malah ngebayangin kalau dulu aku A, sekarang anak-anak gimana? Hadududu...

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.