Skip to main content

Mengapa Saya Islam?

Setelah hampir 25 tahun mengaku beragama Islam, sampailah saya pada pertanyaan “Kenapa saya memilih beragama Islam?”
Selama hampir 25 tahun itu, saya beragama Islam. Saya shalat, puasa, tidak memakan makanan yang haram, saya sudah berhijab, dan saya dengan yakin merasa bahwa saya beragama Islam. Di lain sisi, saya pacaran, saya berhijab belum sesuai syariat, saya terlibat riba, saya tidak menjaga jarak dengan yang bukan mahram, dan saya masih merasa yakin bahwa saya beragama Islam. 

Pada suatu hari, suami saya memberikan video Ustadz Weemar Aditya (https://www.youtube.com/watch?v=7FUC-87ZeAw) mengenai Mengapa Aku Memilih Islam. 5W+1H dipertanyakan pada video tersebut. What, When, Where, Who, Why, dan How. Dengan berbekal pengetahuan agama dari keluarga, guru ngaji, lingkungan, sekolah, dan lainnya, kita mungkin bisa menjawab apa itu Islam? Kapan Islam itu ada? Darimana Islam itu berasal? Siapa yang membawa Islam? Bagaimana menjalankan Islam? Tapi, ketika ditanya kenapa harus Islam, mungkin jawaban kita akan sangat bervariasi.
Sebagai negara dengan mayoritas muslim, bisa jadi alasan kita beragama Islam karena orang tua kita Islam. Lalu, apa karena orang tua kita Islam lantas kita tidak bisa memilih agama yang lain? Mengapa kita hanya “manut” saja untuk beragama sesuai dengan apa yang diturunkan dari orang tua kita? Atau:
A: Kenapa memilih Islam?
B: Karena berdasarkan dalil di Al-Qur’an Islam itu adalah satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah.
A: Kenapa harus percaya pada Al-qur’an?
B: Karena Al-qur’an itu firman Allah.
A: Kenapa kita harus percaya pada Allah?
B: Ya karena Allah itu Tuhan.
A: Kata siapa?
B: Kata Al-qur’an.
A: Kenapa harus percaya pada Al-qur’an?
B: Karena Al-qur’an itu firman Allah.
A: Kenapa kita harus percaya pada Allah?
B: Ya karena Allah itu Tuhan.
....
Mungkin yang lain memiliki jawabannya masing-masing, tapi bagi saya, ketika saya diberi pertanyaan sejenis, jawabannya hampir mirip. Landasan beragama Islam saya pada saat itu berputar-putar disana. Intinya, karena saya lahir Islam, maka tugas saya adalah percaya bahwa Islam adalah agama yang paling benar dan Allah adalah satu-satunya Tuhan.
Kajian berdurasi satu jam lebih itu menyadarkan saya bahwa kita diberi akal untuk mencari alasan mengapa kita memilih Islam. Alasan yang mampu membuat kita berislam secara kaffah atau secara menyeluruh, tidak setengah-setengah. Alasan yang mampu membuat kita kuat untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena kenyataannya, masih banyak orang yang beragama Islam yang mana mereka mengetahui suatu perkara, tapi mereka ingkar.
Satu hal yang benar-benar meyakinkan bagi saya adalah dengan adanya Al-Qur'an. Bagaimana dalam setiap katanya mampu menunjukkan bahwa ini bukanlah karangan manusia (hingga muncul tantangan Allah pada surat Al-Baqarah ayat 23 bagi orang kafir yang mampu membuat satu surat saja seperti Al-Qur'an). Setiap kalimatnya tidak pernah ada yang berubah dan akan selalu terjaga juga terpelihara. Setiap isinya mengandung makna yang relevan sepanjang zaman, dimana banyak hal yang baru diketahui baru-baru ini, ternyata telah tertulis dalam Al-Qur'an yang ditulis berabad-abad sebelumnya. Bagaimana Islam mengatur kita sedetail mungkin dari hal terkecil hingga terbesar.  Dan semua ini hanya dapat ditemukan dalam Islam. Maasyaa Allah.
Alhamdulillah, Allah masih menyayangi saya dan suami sehingga kami diberi jalan untuk memperkuat pondasi kami dalam memilih beragama Islam, yaitu aqidahHal yang paling penting mengingat Rasulullah SAW saja mengajarkan aqidah selama 13 tahun di fase Mekah. Karena hakikatnya, ketika kita sudah yakin bahwa Allah adalah Tuhan, maka sami’na wa atho’na. Kami dengar dan kami taat.

يامقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

‘Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik’
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”

Comments

Popular posts from this blog

Bermimpi jadi anggota DPD itu.....

Ditengah krisis kepercayaan kepada pemerintah yang sedang terjadi saat ini, terdapat banyak harapan dari masyarakat yang merindukan sosok pemimpin sebenarnya. Terlalu jauh sepertinya jika masyarakat harus merengek kepada anggota DPR, toh sebenarnya ada wakil terdekat yang diwadahi dalam sebuah lembaga bernama Dewan Perwakilan Daerah. Banyak orang yang haus akan kekuasaan, namun seandainya saya menjadi anggota DPD RI, ada beberapa hal yang akan saya lakukan, yaitu : 1. Selalu Sadar Diri Cukup banyak masyarakat yang kecewa dengan pemerintahan karena para wakil ternyata hanya mengumbar janji saat pemilihan dan kenyataannya mengesampingkan kebutuhan masyarakat. Padahal saya dapat menjadi anggota DPD pun karena rakyat yang memilih. Disini saya akan selalu sadar diri untuk apa dan siapa saya menjadi anggota DPD RI. Hal ini akan selalu mengingatkan saya akan tugas utama yaitu untuk mengusahakan apa yang diaspirasikan rakyat dan dengan modal sadar diri akan membuat program-program kedep...

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.