Skip to main content

Biar Aku Saja

Jangan rindu. Berat. Kau takkan kuat. Biar aku saja.
Familiar dengan kutipannya?
Saking kreatifnya netizen Indonesia, gombalan di atas berhasil jadi hits dalam berbagai versi. You may google it, LOL.

Terlepas dari gombalan yang diucapkan oleh Iqbal ganteng yang masih dimabuk romansa cinta SMA dan belum sibuk nyari nafkah, bantu istri, main sama anak, kalimat ini bakalan bikin mesem-mesem manjah dan membuat hati berbunga-bunga. Tapi itu semua hanyalah kesenangan yang semu~

Pada praktiknya, "Biar aku saja" yang lebih berfaedah di dunia nyata itu lebih berat dari sekedar rindu. Pun, lebih banyak pengaruhnya dalam hubungan pernikahan, bukan pacaran. Karena:
Jangan pacaran. Dosanya berat. Tahan diri atau nikah aja.
Kalau "Biar aku saja" ini diaplikasiin di kehidupan rumah tangga, jadinya bakalan begini:
Jangan berhenti makannya, lanjutin aja. Yang nyebokin anak, biar aku saja
Jangan sungkan pilih makanan yang kamu mau, nanti kamu gak kenyang. Urusan makan anak, biar anak berdua sama aku aja
Jangan kecapean, nanti sakit. Berantakan dikit gak apa-apa. Sini yang nyapuin biar aku saja
Oalaaah lebih kerasa real dan berfaedah kan~
Karena "Biar aku saja" ternyata memang punya daya tarik tersendiri. Hal ini bisa menunjukkan eksistensi Kau dan Aku dalam Kita, berbagi kepedulian satu sama lainnya.

Jadi...
Jangan dipendam dan semua dikerjakan sendiri. Berat. Kamu gak akan kuat. Biar bareng-bareng dengan aku saja

Comments

Popular posts from this blog

Inferiority

Tidak hanya roda yang selalu berputar, perasaan superior juga ternyata bisa berbalik menjadi inferior. Keadaan dimana dunia terasa menyeramkan, membuatmu begitu kerdil di tengah gempuran orang-orang yang terus tumbuh meninggi meninggalkan. Perasaan yang membuat terjebak dalam rasa bersalah, penuh kekurangan, dan tidak berdaya. Hilang arah tidak tahu tujuan, tidak tahu harus apa dan bagaimana. Pernah merasa mampu menaklukan dunia, melewati masa-masa sulit dengan gagahnya, kini semua itu hanya cerita usang yang tidak terlihat jejaknya. Kasihan, ternyata tidak sesuai dengan imajinasi dan ekspektasi. Apakah timbul rasa penyesalan itu? Hidup di zaman digital ini memang harus bermental baja. Postingan bisa menjadi pisau bermata dua; Memotivasi atau justru semakin undur diri. Kenapa tidak bisa seperti dia? Kalau dia bisa, kenapa kita tidak bisa? Coba lihat, siapa tau terinspirasi. Coba....... Harusnya termotivasi, terinspirasi untuk menemukan jalan dengan hasil yang sama. Nyatanya malah semak...

Malam

Sudah pukul 23:37. Tiga anak kadang beradu dalam satu tempat tidur. Ada yang guling ke kiri, ada yang niban anak lainnya, ada yang kaki di kepala, kepala di kaki 😂. Wajah-wajah manis yang kelelahan setelah menjalani hari. Wajah-wajah yang membuatku penuh rasa bersalah atas perbuatanku sedari pagi. Mataku selalu berkeliling, memperhatikan nyamuk yang seringkali hinggap tanpa permisi. Sekali lagi aku memandangi mereka, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Si sulung yang lengan dan kakinya penuh luka akibat jatuh tempo hari, memarnya juga masih terlihat hingga kini. "Kurus," batinku. "Kasian," tambahku. Aku harusnya lebih bersabar menghadapinya, lebih mendekatkan diri dengannya, lebih perhatian lagi pada setiap permintaannya. Evaluasi diri yang selalu terjadi di setiap malam sebelum tidur, yang entah hilang kemana setiap bangun pada paginya. Kesal karena anak susah bangun yang berimbas pada kegiatan lainnya selalu menjadi awal memulai hari. Pokoknya, entah kenapa seti...

Hi

I may not post a longer notes. I keep it all in my head, and puff~ when I want to write, it's all gone. My rant today, "Emangnya Ibu Rumah Tangga gak rungsing juga?" Thank you.